Banjir Thailand dan Myanmar Tewaskan 18 Orang, Ribuan Mengungsi di Bangkok
Banjir bandang di Thailand dan Myanmar menewaskan sedikitnya 18 orang, puluhan hilang, dan memaksa hampir 5.000 warga Bangkok mengungsi ke penampungan.
Oleh Adi Rahmadi · · Internasional

Rangkuman
- Banjir di Thailand tewaskan 8 orang, di Myanmar 7-10 orang tewas dan 20-30 hilang
- Bangkok tetapkan 50 distrik sebagai zona bencana; 4.900 orang di penampungan
- 545.022 orang terdampak di 25 provinsi Thailand; sekolah-sekolah ditutup
BANGKOK — Banjir bandang yang melanda Thailand dan Myanmar sejak akhir pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 18 orang, dengan puluhan lainnya dinyatakan hilang. Di Thailand, hampir 5.000 warga Ibu Kota Bangkok dievakuasi ke tempat penampungan setelah pemerintah kota menetapkan seluruh 50 distrik sebagai zona bencana.
Di Myanmar, wilayah Tanintharyi di ujung selatan dilanda hujan deras sejak Jumat (25/9) malam akibat sistem cuaca ekstrem yang sama. Myo Min, ketua kelompok sukarelawan Layanan Medis Darurat Dawei Zabuthiri, mengatakan kepada AFP bahwa informasi awal mengindikasikan korban tewas berkisar 7 hingga 10 orang, dengan 20 hingga 30 orang lainnya hilang. "Tim penyelamat belum dapat menangani seluruh wilayah bencana secara menyeluruh," ujarnya. Beberapa desa hanya dapat diakses dengan berjalan kaki, dan ratusan warga mengungsi ke tempat penampungan di biara-biara.
Pihak berwenang Myanmar belum merilis jumlah korban resmi. Situasi perang saudara di negara itu memperumit upaya penyaluran bantuan dan pendataan korban. Myanmar, negara berpenduduk 51 juta jiwa, termasuk dalam daftar 10 negara paling rentan terhadap krisis iklim menurut organisasi nirlaba Germanwatch.
Di Thailand, Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (DDPM) melaporkan 174.803 keluarga atau 545.022 orang terdampak di 25 provinsi plus Bangkok, dengan delapan orang tewas: lima di Sa Kaeo, dua di Chanthaburi, dan satu di Saraburi. Provinsi Samut Prakan di tepi tenggara Bangkok paling parah terdampak dengan 124.678 keluarga. Hujan lebih dari 330 mm mengguyur sebagian ibu kota antara 24-27 September, menurut badan cuaca Thailand.
Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) melaporkan hampir 4.900 orang berada di penampungan dan sekitar 52.000 keluarga terdampak. Jumlah penghuni penampungan melonjak hampir lima kali lipat dalam sehari. "Rumah kami terendam sekitar 30 jam. Kali ini, ketinggian air lebih tinggi dari banjir 2011," kata Kosin Nilset, warga yang tinggal di tepi kanal Premprachakorn. Banjir 2011 adalah bencana banjir terburuk Thailand dalam ingatan kolektif warga.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt meminta warga menghindari perjalanan tidak perlu dan mengunjungi penampungan sekolah di Kheha Romklao yang menampung sekitar 1.000 pengungsi. Ratusan sekolah di Bangkok ditutup pada Senin (28/9). Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang tetap beroperasi, meski air mencapai sebagian taxiway di Don Mueang. Thai Airways dan maskapai lain menawarkan perubahan jadwal gratis bagi penumpang terdampak.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang sedang berada di London usai kunjungan resmi ke Jepang dan Amerika Serikat, memerintahkan kementerian dan pemerintah daerah menjalankan respons terkoordinasi. Kamar Dagang Thailand memperingatkan gangguan transportasi dan pasokan bahan baku bisa berlangsung lebih lama dari surutnya air. Badan Meteorologi Thailand memperkirakan hujan mulai mereda pada 28 September, dengan seluruh wilayah kembali normal pada 2 Oktober.
Sumber
- Banjir Tewaskan Setidaknya 18 Orang di Thailand dan Myanmar — Okezone
- Floods drive nearly 4,900 into shelters in Thailand's capital Bangkok — IntelliNews
- South Myanmar floods, landslides kill 8: rescue worker — The Standard
- DDPM reports floods in 25 provinces and Bangkok on Sept 27 — Jiji Press