Aleksandar Vucic Mundur sebagai Presiden Serbia, Incar Kursi Perdana Menteri

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mundur pada Minggu (27/9/2026) dan akan maju sebagai kandidat perdana menteri dari Partai Progresif Serbia pada pemilu dini.

Oleh · · Internasional

Aleksandar Vucic Mundur sebagai Presiden Serbia, Incar Kursi Perdana Menteri
Foto: Presiden Serbia Aleksandar Vucic dalam pertemuan resmi dengan pejabat Uni Eropa, 2024. · Oliver Bunic - European Commission Audiovisual Service · CC BY 4.0

Rangkuman

BEOGRAD — Presiden Serbia Aleksandar Vucic resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Minggu (27/9/2026), menjelang pemilihan umum parlemen dini yang dijadwalkan 25 Oktober 2026. Pengumuman disampaikan dari istana kepresidenan di Beograd, dalam pidato yang ia sebut sebagai pidato terakhirnya dalam kapasitas sebagai presiden, seperti dilaporkan Okezone dan Sindonews yang mengutip stasiun televisi Serbia RTK.

Vucic mundur di tengah masa jabatan presiden keduanya. Konstitusi Serbia melarangnya mencalonkan diri lagi untuk jabatan presiden, dan pemilihan presiden baru harus diselenggarakan dalam waktu tiga bulan setelah pengunduran diri. Namun langkah ini bukan akhir karier politiknya: Vucic berencana maju sebagai kandidat dari partai berkuasa, Partai Progresif Serbia (SNS), kali ini untuk memperebutkan kursi perdana menteri.

Jika SNS keluar sebagai pemenang pada pemilu parlemen dini 25 Oktober, Vucic diperkirakan akan didapuk sebagai perdana menteri. Dengan demikian warga Serbia harus memberikan suara dua kali tahun ini, yakni pada pemilu parlemen dan pemilu presiden pengganti. Ini merupakan langkah politik yang sudah ia sinyalkan sejak lama — Vucic pertama kali mengumumkan niat meninggalkan kursi kepresidenan dalam rapat umum pada Juni 2026.

Momen pengunduran diri itu diwarnai pemandangan dramatis di luar istana. Ribuan pendukung Vucic berkumpul untuk melepas kepergiannya, sebagian membentangkan spanduk bertuliskan "Terima kasih" dan menjuluki sang presiden sebagai jenius politik. Usai berpidato, Vucic menandatangani surat pengunduran dirinya di hadapan kamera, lalu menemui langsung para pendukungnya di luar istana, demikian laporan Sindonews yang mengutip rekaman RTK.

Manuver Vucic dibaca pengamat sebagai cara bertahan di puncak kekuasaan dengan berganti kursi. Dengan konstitusi menutup peluang periode ketiga kepresidenan, jabatan perdana menteri — yang di Serbia mengendalikan roda pemerintahan sehari-hari — menjadi jalur paling logis untuk mempertahankan pengaruhnya. Sebelum menjadi presiden pada 2017, Vucic memang pernah menjabat perdana menteri sejak 2014.

Kepemimpinan Vucic selama lebih dari satu dekade tidak lepas dari kontroversi. Ia menghadapi gelombang unjuk rasa besar-besaran dalam setahun terakhir, termasuk demonstrasi yang disebut dihadiri ratusan ribu hingga sejuta warga yang menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kasus dugaan korupsi dan runtuhnya atap stasiun kereta di Novi Sad. Tekanan publik itu memaksa sejumlah perombakan kabinet sebelum akhirnya ia memilih mundur dari kursi presiden.

Pengunduran diri Vucic menambah panjang daftar gejolak politik Eropa timur tahun ini. Pemilu parlemen dini 25 Oktober akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah SNS masih memegang mandat rakyat, atau gelombang protes jalanan justru bermuara pada perubahan kekuasaan di Beograd. Sampai berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi soal penjabat presiden pengganti sementara.

Sebelum menjadi presiden pada 2017, Vucic memang pernah menjabat perdana menteri sejak 2014, sehingga langkah kembali ke kursi itu bukan hal baru baginya. Konstitusi Serbia menempatkan perdana menteri sebagai pemegang kendali pemerintahan sehari-hari, sementara presiden lebih berperan simbolis. Bagi para kritikusnya, manuver ini menegaskan tekad Vucic mempertahankan kekuasaan efektif meski harus berganti jabatan.

Sumber

  1. Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mengundurkan Diri — Okezone
  2. Presiden Ini Tiba-tiba Mengundurkan Diri, Dipuji Pendukung di Luar Istana — Sindonews

Berita terkait